Laman

Senin, 03 Januari 2011

SIFAT ISTRI SOLEKHAH II

Sifat istri shalihah lainnya bisa kita rinci berikut
ini berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan
setelahnya:
1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada
suaminya dan mencari maafnya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda :
َالَأ ْمُكُرِبْخُأ ْمُكِئاَسِنِب ْنِم
ِلْهَأ ؟ِةَّنَجْلا ُدْوُدَوْلَا
ُدْوُلَوْلا ُدْوُؤَعْلا ىَلَع
اَهِجْوَز، ىِتَّلا اَذِإ َبِضَغ
ْتَءاَج ىَّتَح َعَضَت اَهَدَي يِف ِدَي
اَهِجْوَز، ُلْوُقَتَو: َال ُقوُذَأ
اًمْضَغ ىَّتَح ىَضْرَت
“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-
istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu
istri yang penuh kasih sayang, banyak anak,
selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika
suaminya marah, dia mendatangi suaminya
dan meletakkan tangannya pada tangan
suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur
sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam
Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash
Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah,
no. 287)
2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada
suami) seperti menyiapkan makan minumnya,
tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.
3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih
yang berkenaan dengan hubungan intim
antara dia dan suaminya. Asma ’ bintu Yazid
radhiallahu 'anha menceritakan dia pernah
berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita
sedang duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam bertanya: “Barangkali ada seorang
suami yang menceritakan apa yang
diperbuatnya dengan istrinya (saat
berhubungan intim), dan barangkali ada
seorang istri yang mengabarkan apa yang
diperbuatnya bersama suaminya ?” Maka
mereka semua diam tidak ada yang
menjawab. Aku (Asma) pun menjawab:
“ Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya
mereka (para istri) benar-benar melakukannya,
demikian pula mereka (para suami). ”
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
َالَف اوُلَعْفَت، اَمَّنِإَف َكِلَذ
ُلْثِم ِناَطْيَّشلا َيِقَل
ًةَناَطْيَش يِف ٍقْيِرَط اَهَيِشَغَف
ُساَّنلاَو َنْوُرُظْنَي
“Jangan lagi kalian lakukan, karena yang
demikian itu seperti syaithan jantan yang
bertemu dengan syaitan betina di jalan,
kemudian digaulinya sementara manusia
menontonnya. ” (HR. Ahmad 6/456, Asy-
Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Adabuz
Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid
(pendukung) yang menjadikan hadits ini
shahih atau paling sedikit hasan)
4. Selalu berpenampilan yang bagus dan
menarik di hadapan suaminya sehingga bila
suaminya memandang akan
menyenangkannya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
َالَأ َكَرِبْخُأ ِرْيَخِب اَم
ُزِنْكَي ُءْرَمْلا، ُةَأْرَمْلَا
ُةَحِلاَّصلا، اَذِإ َرَظَن اَهْيَلِإ
َهْتَّرَس اَذِإَو اَهَرَمَأ
َهْتَعاَطَأ اَذِإَو َباَغ اَهْنَع
َهْتَظِفَح
“Maukah aku beritakan kepadamu tentang
sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki,
yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan
menyenangkannya, bila diperintah akan
mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan
menjaga dirinya ”. (HR. Abu Dawud no. 1417.
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam
Al-Jami ’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di
atas syarat Muslim.”)
5. Ketika suaminya sedang berada di rumah
(tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan
dirinya dengan melakukan ibadah sunnah
yang dapat menghalangi suaminya untuk
istimta ‘ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti
puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
َال ُّلِحَي ِةَأْرَمْلِل ْنَأ َموُصَت
اَهُجْوَزَو ٌدِهاَش َّالِإ ِهِنْذِإِب
“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa
(sunnah) sementara suaminya ada (tidak
sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”.
(HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan
suami, tidak melupakan kebaikannya, karena
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
bersabda:
“Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku
dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum
wanita yang kufur. ” Ada yang bertanya
kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada
Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri
suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri)
kebaikannya. Seandainya salah seorang dari
kalian berbuat baik kepada seorang di antara
mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia
melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan
baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah
melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-
Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga
pernah bersabda:
َال ُرُظْنَي ُهللا ىَلِإ ٍةَأَرْما َال
ُرُكْشَت اَهِجْوَزِل َيِهَو َال
يِنْغَتْسَت ُهْنَع
“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri
yang tidak bersyukur kepada suaminya
padahal dia membutuhkannya. ” (HR. An-Nasai
dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-
Shahihah no. 289)
7. Bersegera memenuhi ajakan suami untuk
memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa
alasan yang syar ‘i, dan tidak menjauhi tempat
tidur suaminya, karena ia tahu dan takut
terhadap berita Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam:
يِذَّلاَو يِسْفَن ِهِدَيِب اَم ْنِم
ٍلُجَر وُعْدَي ُهَتَأَرْما ىَلِإ
ِهِشاَرِف ىَبْأَتَف ِهْيَلَع َّالِإ
َناَك يِذَّلا يِف ِءاَمَّسلا اًطِخاَس
اَهْيَلَع ىَّتَح ىَضْرَي اَهْنَع
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya,
tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke
tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan)
melainkan yang di langit murka terhadapnya
hingga sang suami ridha padanya. ” (HR.
Muslim no.1436)
اَذِإ ِتَتاَب ُةَأْرَمْلا ًةَرِجاَهُم
َشاَرِف اَهِجْوَز اَهْتَنَعَل
ُةَكِئَالَمْلا ىَّتَح َعِجْرَت
“Apabila seorang istri bermalam dalam
keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya,
niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia
kembali (ke suaminya). ” (HR. Al-Bukhari no.
5194 dan Muslim no. 1436)
Demikian yang dapat kami sebutkan dari
keutamaan dan sifat-sifat istri shalihah,
mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta'ala
memberi taufik kepada kita agar dapat menjadi
wanita yang shalihah, amin.
1. Atau ia belajar agama namun tidak
mengamalkannya
2. Tempat untuk bersenang-senang (Syarah
Sunan An-Nasai oleh Al-Imam As-Sindi
rahimahullah, 6/69)
3. Karena keindahan dan kecantikannya secara
dzahir atau karena bagusnya akhlaknya secara
batin atau karena dia senantiasa menyibukkan
dirinya untuk taat dan bertakwa kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala (Ta ‘liq Sunan Ibnu
Majah, Muhammad Fuad Abdul Baqi, Kitabun
Nikah, bab Afdhalun Nisa, 1/596, ‘Aunul
Ma‘bud, 5/56)
4. Dengan perkara syar‘i atau perkara biasa
(‘Aunul Ma‘bud, 5/56)
5. Mengerjakan apa yang diperintahkan dan
melayaninya (‘Aunul Ma‘bud, 5/56)
6. Bukan dalam bermaksiat kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala, karena tidak ada
ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat
kepada Al-Khaliq.
7. Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha
Mengetahui bahwasanya Nabi-Nya tidak akan
menceraikan istri-istrinya (ummahatul
mukminin), akan tetapi Allah Subhanahu wa
Ta'ala mengabarkan kepada ummahatul
mukminin tentang kekuasaan-Nya, bila sampai
Nabi menceraikan mereka, Dia akan
menggantikan untuk beliau istri-istri yang lebih
baik daripada mereka dalam rangka menakuti-
nakuti mereka. Ini merupakan pengabaran
tentang qudrah Allah Subhanahu wa Ta'ala
dan ancaman untuk menakut-nakuti istri-istri
Nabi , bukan berarti ada orang yang lebih baik
daripada shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/126) dan
bukan berarti istri-istri beliau tidak baik bahkan
mereka adalah sebaik-baik wanita. Al-Qurthubi
rahimahullah berkata: “Permasalahan ini
dibawa kepada pendapat yang mengatakan
bahwa penggantian istri dalam ayat ini
merupakan janji dari Allah Subhanahu wa
Ta'ala untuk Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa
sallam, seandainya beliau menceraikan mereka
di dunia Allah Subhanahu wa Ta'ala akan
menikahkan beliau di akhirat dengan wanita-
wanita yang lebih baik daripada mereka. ” (Al-
Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/127)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar